Oleh : Al Habib Umar bin Hafizh
Kita tentu bersedih dengan peristiwa terbunuhnya Al-Husain di hari Asyura. Orang yang berbahagia karena terbunuhnya Al-Husain, jelas hal itu membuatnya menjadi seorang yang fasiq, bahkan bisa pada kekufuran. Akan tetapi, dalam beragama, sikap kita tidak didasari sifat tasya-um (pesimisme, sial, atau merasa tak berpengharapan, bersedih berkepanjangan karena peristiwa atau pandangan tertentu), tapi dengan tafa-ul (optimisme, atau menanggapi secara positif segala sesuatu).
Tasyaum, apalagi dalam bentuk-bentuk seperti mencaci maki, tidak ada tuntunannya dalam agama kita dan dalam peringatan-peringatan agama kita ini. Semua peringatan agama dalam agama kita didasari semangat optimisme dan membawa ketenangan di hati, seperti halnya peringatan Maulid, hari ‘Id, bulan Ramadhan, dan sebagainya.
Kita memang tak boleh bersenang hati dengan terbunuhnya Al-Husain. Tetapi kita harus tetap wasth, moderat, sebagaimana fungsi agama yang sebenarnya. Kita tidak menyikapi Peristiwa Karbala dengan bersedih-sedih, karena hal itu bahkan bertentangan dengan apa yang dirasakan Imam Husain sendiri. Jelas, di hari itu Al-Husain sangat bahagia.
Seandainya ditanyakan kepadanya hari yang paling membahagiakan baginya, niscaya jawabnya adalah hari di saat ia mendapati kesyahidannya, yaitu hari Asyura. Sebab, di hari itu derajatnya diangkat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan di hari itu pula ia berjumpa dengan kakeknya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ayahnya, Ali Karramallahu wajhah, ibundanya, Fathimatuzzahra, dan kakaknya, Al-Hasan. Karenanya, kita pun tidak memperingatinya dengan kesedihan.
Adapun istilah lebaran anak yatim di hari Asyura itu berdasarkan hal-hal yang disunnahkan di hari itu, yaitu lewat riwayat-riwayat yang sudah termasyhur di tengah-tengah kaum muslimin. Di antaranya, melebihkan uang belanja keluarga, menyantuni dan menggembirakan anak yatim, dan sebagainya. Kesemuanya adalah hal-hal yang bersifat optimisme dan kebahagian di hati.
Namun demikian, kalau di hari itu kita berbahagia karena terbunuhnya Al-Husain atau berpesta karenanya, itu tindakan yang bertentangan dengan akal sehat. Hendaknya, kita menempatkan semua nash agama pada tempatnya dan menyikapi setiap masalah secara proporsional.”
Sumber : Kios Habib