Zuhud
Menurut bahasa zuhud berarti tidak ingin kepada
sesuatu dengan meninggalkannya. Zuhud dalam pengertian ini adalah berusaha
mencintai Allah swt. di atas cinta kepada apa pun dan siapa pun. Seseorang yang
memiliki sifat zuhud akan menyerahkan seluruh pengabdiannya hanya kepada Allah
swt. dengan berpaling dan meninggalkan sesuatu yang bersifat kemewahan duniawi.
Seseorang yang memiliki sifat zuhud selalu mengharapkan sesuatu yang lebih baik
dan bersifat spiritual atau kebahagiaan akhirat. Harta yang dimilikinya
digunakan untuk pengabdian kepada Allah swt. guna menegakkan agama Islam.
Allah swt. berfirman Q.S. Al-‘Ankabut : 64
Allah swt. berfirman Q.S. Al-‘Ankabut : 64

Artinya : “Dan kehidupan dunia ini hanya senda-gurau
dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang
sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.”
Allah swt. berfirman Q.S. Al-Qasas : 60

Artinya : “Dan apa saja (kekayaan, jabatan,
keturunan) yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kesenangan hidup duniawi
dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih
kekal. Tidakkah kamu me-ngerti?”
Sebagaimana dalam firman Allah swt. tersebut, orang yang memiliki sifat zuhud, tidak pernah terlena dengan kemewahan hidup dunia. Kenikmatan yang diberikan Allah swt. untuk hidup dunia ini hanyalah perhiasan dunia. Sementara kehidupan akhirat adalah lebih kekal. Kemewahan dunia hanyalah sesuatu yang melalaikan orang dari mengingat Allah swt.
Al-Gazali membagi tingkatan zuhud menjadi 3 yaitu Meninggalkan sesuatu karena menginginkan sesuatu yang lebih baik daripadanya, Meninggalkan keduniaan karena mengharap sesuatu yang bersifat keakhiratan dan Meninggalkan segala sesuatu selain Allah swt. karena mencintai-Nya.
Kecintaan kepada Allah swt. lebih diutamakan daripada
keinginan untuk memiliki sesuatu yang bersifat material. Seseorang yang
mengutamakan kehidupan akhirat, Allah swt. akan menambah keuntungan baginya.
Allah swt. berfirman dalam Q.S. Asy-Syura : 20

Artinya : Barangsiapa menghendaki keuntungan di
akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya danbarangsiapa menghendaki
keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan
dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat.
Tawakal
Adapun tawakal menurut bahasa berarti menyerahkan, mempercayakan atau
mewakilkan urusan kepada orang lain. Tawakal dalam pengertian ini adalah
menyerahkan segala perkara, ikhtiar dan usaha yang dilakukan kepada Allah swt.
serta berserah diri sepenuhnya kepada-Nya untuk mendapatkan manfaat atau
menolak yang mudarat.
Dari pengertian tersebut jelas bahwa seseorang yang
bertawakal kepada Allah swt. adalah menyerahkan atau mewakilkan segala
urusannya hanya kepada Allah swt. sebagai zat yang dapat menyelesaikan segala
perkara manusia.
Allah swt. Berfirman dalam Q.S. Ali ‘Imran : 159

Artinya : “Maka berkat rahmat Allah engkau
(Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap
keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena
itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan
bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.)
Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah
kepadaAllah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.”
Tawakal merupakan amalan hati dan puncak tertinggi kemanusiaan. Sifat ini datang dengan sendirinya manakala iman seseorang sudah matang. Buya Hamka mengatakan ”belum berarti pengakuan iman kalau belum tiba di puncak tawakal”. Orang yang bertawakal tidak berarti harus meninggalkan segala usaha dan ikhtiar. Usaha dan ikhtiar harus tetap dilakukan sedangkan keputusan terakhir diserahkan kepada Allah swt.
Sikap orang yang bertawakal kepada Allah swt. tidak akan berkeluh kesah dan gelisah. Ia akan selalu berada dalam ketenangan, ketenteraman, dan kegembiraan. Jika ia memperoleh nikmat dan karunia dari Allah swt. ia akan bersyukur. Sebaliknya jika ia tertimpa musibah, akan bersabar.
Tawakal merupakan salah satu ciri orang mukmin. Orang beriman mengakui bahwa Allah-lah yang menjadi pelindung dirinya dari segala sesuatu. Orang yang bertawakal kepada Allah swt. akan memperoleh banyak keberuntungan.
Allah swt. Berfirman Q.S. At-Talaq : 3

Artinya : “dan Dia memberinya rezeki dari arah yang
tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya
Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan
urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.”
Orang yang bertawakal akan mendapat banyak kebaikan dalam hidupnya. Mereka selalu berserah diri kepada Allah swt., bersyukur kepada-nya, dan tidak putus asa apabila usahanya mengalami kegagalan. Oleh karena itu merupakan cobaan bagi dirinya yang akan membawa hikmah. Sebaliknya orang yang yang tidak bertawakal kepada Allah swt., biasanya akan mengalami kekecewaan, berkecil hati, pesimis, dan bahkan nekat melakukan tindakan bunuh diri.