Nasab
Sayyidina Syekh Abu Bakar bin Salim Ra
As-Syekh
Al Kabir Al-Qutb As-Syahir Abu Bakar bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin
Abdullah bin Sayyidina Syekh Al-Imam Al-Qutb Abdurrahman As-segaf bin Syekh
Muhammad Maula Ad-Dawilayh bin Syekh Ali Shohibud Dark bin Sayyidina Al-Imam
Alwi Al-Ghuyur bin Sayyidina Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam muhammad bin
Sayyidina Ali bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib Marbat bin Sayyidina
Al-Imam Kholi Qosam bin Sayyidina Alwi bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib
As-Shouma’ah bin Sayyidina Al-Imam Alwi Shohib Saml bin Sayyidina Al-Imam
Ubaidillah Shohibul Aradh bin Sayyidina Al-Imam Muhajir Ahmad bin Sayyidina
Al-Imam Isa Ar-Rumi bin Sayyidina Al- Imam Muhammad An-Naqib bin Sayyidina
Al-Imam Ali Al-Uraydhi bin Sayyidina Al-Imam Ja’far As-Shodiq bin Sayyidina Al-Imam
Muhammad Al-Baqir bin Sayyidina Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Al-Imam
As-Syahid Syababul Jannah Sayyidina Al-Husein. Rodiyallahu ‘Anhum Ajma’in.
Syeikh
Abubakar bin Salim dilahirkan pada tanggal 13 Jumadil Akhir 919 H di kota
Tarim, Yaman. Ia tumbuh dewasa menjadi seorang tokoh sufi yang masyhur
sekaligus seorang yang alim dan mengamalkan ilmunya.
Ayahandanya
adalah Habib Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman
Assegaf
sedangkan
Ibunda beliau adalah Syarifah Thalhah binti Agil bin Ahmad bin Abubakar
As-Sakron bin Abdurrahman Assegaf.
Jauh
sebelumnya, kelahiran beliau telah banyak diramalkan oleh para wali terkemuka,
diantaranya adalah Al-Imam Ahmad bin Alwi yang tinggal di daerah Maryamah,
sekali waktu beliau datang ke Inat dan ia duduk di sebidang tanah yang pada
waktu itu hanya berupa semak belukar dan bebatuan. Ia berhenti sejenak di
tempat tersebut dan berkata kepada masyarakat yang hadir waktu itu, “Akan lahir
salah seorang anak kami yang akan mempunyai keagungan dan ia akan tinggal di
tempat ini”. Selanjutnya ia berjalan berkeliling kota Inat sambil sesekali
menunjukkan tempat-tempat yang kelak berkaitan dengan Syeikh Abubakar bin
Salim, ia menunjukkan tempat yang akan dibangun masjid oleh Syeikh Abubakar dan
ia sempat shalat disana, ia juga menunjukkan tempat dimana Syeikh Abubakar akan
membangun rumah.
Habib
Ali bin Muhammad Al-Habsyi meriwayatkan bahwa wali lainnya yang telah
meramalkan keberadaan Syeikh Abubakar adalah Habib Muhammad bin Ahmad
Jamalullail, ia berkata, “Akan ada disini (Inat) salah seorang dari anak-anak
kami yang akan termasyhur dengan keagungan dan kewalian, dan Qubahnya akan
berada dan didirikan di kota ini”.
Sejak
kecil Syeikh Abubakar bin Salim telah menunjukkan tanda-tanda bahwa kelak ia
akan menjadi orang yang memiliki kemuliaan. Pernah pada suatu kesempatan Syeikh
Faris Ba Qais bersama para muridnya pergi ke Tarim. Ikut dalam rombongan Syeikh
Faris 300 pemegang rebana yang mengiringi perjalanan itu dengan tabuhan
rebananya. Setibanya di Tarim ia bersama pengikutnya mengunjungi Habib Syeikh
Al-Idrus. Keesokan harinya Syeikh Faris berniat untuk menziarahi makam Nabi Hud
AS, ia berkata kepada sejumlah habib, “Wahai habaib, kami membutuhkan seorang
pengantar darimu, terus terang kami takut jika dalam perjalanan nanti ilmu kami
dicuri orang”. Para Habib menyanggupi, “Jangan khawatir, kami cukup mempunyai
banyak orang berilmu disini, lagi pula mencuri ilmu bukanlah kebiasaan kami”.
Mulailah Syeikh Faris mencari orang yang dianggap mampu mengawal dia dan para
pengikutnya, sampai akhirnya ia melewati Syeikh Abubakar bin Salim yang saat
itu masih berusia 4 tahun, sedang bermain-main di jalan bersama teman
sebayanya. “Aku pilih anak ini”, kata Syeikh Faris sambil menunjuk si kecil
Abubakar bin Salim. Para habib segera menjawab, “Anak kecil ini mana pantas
mengawalmu?”. Syeikh Faris berkata, “Aku adalah tamu kalian dan aku hanya
menginginkan anak ini”. Para habib kemudian mendatangi ibu Syeikh Abubakar bin
Salim dan mengabarkan persoalan yang mereka hadapi. Ibunya berkata, “Anak ini
masih kecil, cari saja yang lain”. Mereka menjawab, “Syeikh Faris hanya
menginginkan anakmu”. Akhirnya sang ibu memberikan izin.
Syeikh
Abubakar kemudian digendong oleh pelayannya, Ba Qahawil, untuk mengawal Syeikh
Faris dan rombongannya. Syeikh Umar Ba Makhramah, seorang wali Allah, yang ikut
dalam rombongan Syeikh Faris memegang kepala Ba Qahawil sambil melantunkan
syair yang diawali dengan bait-bait berikut:
Semoga
Allah membahagiakan temanmu, hai Ba Qahawil pohon kurma apa ini, masih kecil
sudah berbuah Mereka menanamnya di waktu Dhuha dan sudah memanennya di waktu
senja.
Kemudian
Syeikh Umar mengusap kepala Syeikh Abubakar bin Salim sambil meneruskan
syairnya:
Wahai
emas sejati, dengan pandangan-Nya Allah memeliharamu semua lembah yang luas
menjadi kecil dibanding lembahmu.
Masa
muda Syeikh Abubakar bin Salim dipenuhi dengan rutinitas pendidikan, selain
didikan orang tuanya, juga tercatat beberapa ulama besar yang menjadi gurunya,
antara lain, Syeikh Umar Basyeiban Ba’alawi, Syeikh Abdullah bin Muhammad
Baqusyair, Syeikh Muhammad bin Abdullah Bamakhramah, Imam Ahmad bin Alwi
Bajahdab, Syeikh Makruf Bajamal dan Syeikh Umar bin Abdullah Ba Makhramah.
Pada
suatu ketika Syeikh Abubakar berniat belajar kepada salah seorang gurunya,
Syeikh Makruf Bajamal yang tinggal di kota Syibam. Namun ia terpaksa berhenti
di pinggir kota, karena Syeikh Makruf Bajamal belum berkenan menemuinya. Setiap
kali dikatakan kepada Syeikh Makruf, “Anak Salim bin Abdullah meminta izin
untuk menemuimu.” Jawabnya selalu, “Katakan kepadanya bahwa aku belum berkenan
menerimanya”, meskipun ayah beliau adalah seorang yang dihormati karena
kesalehannya. Syeikh Abubakar bin Salim tetap bersabar di bawah teriknya
matahari dan dinginnya angin malam. Ia menguatkan hati dan mengendalikan
nafsunya demi memperoleh asrar.
Baru
setelah lewat 40 hari ia menerima kabar bahwa Syeikh Makruf bersedia
menemuinya. Syeikh Makruf hanya memerlukan beberapa saat saja untuk menurunkan
ilmu kepadanya. Sewaktu keluar dari kediaman Syeikh Makruf, ia mendapati
sekumpulan kaum wanita yang mengelukan-elukan kedatangannya, “Selamat wahai
Ibnu Salim, selamat wahai Ibnu Salim.” Mereka berbuat demikian dengan harapan
mendapatkan sesuatu darinya. Iapun segera menyadari hal ini dan kemudian
mendoakan agar mereka mendapatkan suami yang setia. Menurut Habib Ali hingga
saat ini kaum wanita Syibam memiliki suami yang setia. Ketika Habib Ali
ditanya, “Apakah Syeikh Ma’ruf juga termasuk salah satu dari guru-guru Syeikh
Abubakar bin Salim?” Ia menjawab, “Ya, akan tetapi beliau kemudian mengungguli
syeikhnya”
Syeikh
Abubakar bin Salim mempelajari Risalatul Qusyairiyah yang sangat terkenal dalam
dunia tasawuf di bawah bimbingan Syeikh Umar bin Abdullah Ba Makhramah.
Disebutkan dalam Kitab Tadzkirun Naas, sekali waktu Habib Ahmad bin Hasan
Al-Atthas shalat ashar di masjid Syeikh Abdul Malik Baraja di Kota Seiwun, ia
menunjukkan sebidang tanah sambil berkata : “Ini adalah sebidang tanah yang
mana pernah terjadi satu peristiwa antara Syeikh Umar Bamakhramah dan Syeikh
Abubakar bin Salim. Tatkala itu Syeikh Abubakar sedang belajar dan membaca
kitab tasawwuf yang terkenal Risalah Al-Qusyairiyah, tatkala sedang membahas
kekeramatan para wali, Syeikh Abubakar bin Salim bertanya kepada gurunya
“Kekeramatan itu seperti apa ?”, dijawab oleh Syeikh Umar, “Contoh kekeramatan
itu adalah engkau tanam biji kurma ini kemudian ia langsung tumbuh dan berbuah
pada saat itu juga” Kemudian Syeikh Umar yang kala itu memang sedang memegang
biji kurma, melemparkan biji kurma tersebut ke tanah dan kemudian langsung
tumbuh dan berbuah, sehingga orang-orang yang hadir saat itu dapat memetik dan
memakan buahnya. Orang-orang yang hadir pada saat itu berkata pada Syeikh
Abubakar bin Salim “Kami menginginkan lauk pauk darimu yang ingin kami makan
bersama kurma ini”. Tersirat dalam perkataan ini seolah-olah mereka bertanya
kepada Syeikh Abubakar apakah ia mampu melakukan seperti yang telah dilakukan
oleh Syeikh Umar. Lalu Syeikh Abubakar bin Salim berkata, “Pergilah kalian ke
telaga masjid, lalu ambillah apa yang kalian temui disana”. Kemudian mereka
pergi ke telaga masjid dan mendapati ikan yang besar disana. Lalu mereka ambil
dan makan sebagai lauk pauk yang mereka inginkan.
Kegemaran
Syeikh Abubakar bin Salim dalam menekuni ilmu pengetahuan dibuktikannya dengan
menghatamkan Ihya’ Ulumuddin-nya Hujjatul Islam Al-Ghazali sebanyak 40 kali dan
menghatamkan kitab fiqih syafi’iyah, Al-Minhaj karya Imam Nawawi sebanyak 3
kali. Dan diantara kebiasaannya adalah memberikan wejangan kepada masyarakat
setelah sholat Jumat.
Diantara
ibadah dan riyadohnya, pernah dalam waktu yang cukup lama ia berpuasa dan hanya
berbuka dengan kurma yang masih hijau. Juga selama 90 hari ia berpuasa dan
sholat malam di lembah Yabhur dan selama 40 tahun beliau sholat subuh di Masjid
Baa Isa, di kota Lisk, dengan wudhu Isya. Setiap malam ia berziarah ke tanah
pekuburan Tarim dan berkeliling untuk melakukan sholat di berbagai masjid di
Tarim diakhiri dengan sholat Subuh berjamaah di masjid Baa Isa. Sepanjang
hidupnya ia berziarah ke makam Nabiyullah Hud sebanyak 40 kali. Setiap malam,
selama 40 tahun, ia berjalan dari Lisk menuju Tarim, melakukan sholat di setiap
masjid di Tarim, mengusung air untuk mengisi tempat wudhu, tempat minum bagi
para peziarah, dan kolam tempat minum hewan. Dan sampai akhir hayatnya sang
Syeikh tidak pernah meninggalkan sholat witir dan dhuha.
Berbeda
dengan para wali di Tarim yang hampir semuanya menutupi hal (keadaan) mereka,
Syeikh Abubakar bin Salim mendapatkan perintah agar ia meng-izhar-kan
(menampakkan) kewaliannya. Pada awalnya ia sendiri merasa enggan dan ragu,
sampai akhirnya hal ini sampai kepada gurunya, Al-Imam Ahmad bin Alwi Bajahdab.
Ia manyatakan, “Tidaklah maqam-nya Syeikh Abubakar bin Salim akan berkurang
dengan nampaknya kewalian yang dimilikinya, karena kalimat Bismillah telah diletakkan
di setiap perkataannya. Dan sungguh tidak berkurang sama sekali kadar maqam
kewalian dikarenakan masyhurnya beliau, terkecuali seperti berkurangnya satu
biji dalam makanan”. Tatkala perkataan guru beliau ini disampaikan kepadanya,
Syeikh Abubakar bin Salim melakukan sujud syukur kepada Allah SWT dan berkata,
“Aku merasa cukup dengan isyarat pengukuhan ini, sebagai lambang kemegahan dan
keagungan yang diberikan Allah SWT”.
Setelah
kejadian itu, ia berangkat dari Inat menuju Tarim untuk berziarah dan berjumpa
dengan guru beliau tersebut, maka setelah sampai gurunya bertanya,
“Bagaimanakah bentuk isyarat yang telah engkau terima ?”. Ia menjawab,
“Sesungguhnya telah datang kepadaku serombongan pemuka kaum Ba’alawi dan
bersama mereka ada Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, mereka semuanya memerintahkan
kepadaku agar aku mengizharkan diriku. Bagaimanakah pandangan anda sendiri ?.
Apakah saya dilarang ?. Sesungguhnya diriku sendiri kurang menyukai kemasyhuran
?”. Setelah mendengar perkataan beliau, gurunya diam sesaat dan setelah itu ia
berbincang dengan Syeikh Abubakar bin Salim dengan perkataan yang tidak
dipahami oleh orang yang hadir kala itu, kemudian gurunya berwasiat kepada
Syeikh Abubakar dengan beberapa wasiat dan memerintahkan beliau untuk pulang
dan menetap di kota Inat. Pulanglah Sang Syeikh ke Kota Inat, dan disanalah ia
kemudian termasyhur. Namanya yang harum semerbak dikenal di seluruh penjuru
negeri. Cahaya ilmu dan kemuliaannya berkemilau menerangi orang-orang yang
berjalan di jalan Allah SWT. Ia hidupkan kota Inat dengan ilmu. Manusia datang
dari berbagai pelosok daerah guna menuntut ilmu darinya sehingga Inat menjadi
kota yang ramai oleh pencinta ilmu. Murid-murid beliau datang dari berbagai
kota di Yaman dan mancanegara, antara lain Syam, India, Mesir dan berbagai
negara lainnya. Diantara beberapa muridnya yang terkenal adalah Habib Ahmad bin
Muhammad Al-Habsyi, Shohibus Syiib, Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Jufri,
Habib Muhammad bin Alwi, Sayyid Yusuf Al-Qodhiy bin Abid Al-Hasany, Syeikh Hasan
Basyaib serta beberapa murid lainnya.
Demi
kepentingan pendidikan dan pengembangan dakwah, ia mendirikan sebuah masjid dan
membeli tanah pekuburan yang luas. Al-Mualim Ahmad bin Abdurrahman Bawazir
berkata, “Ada satu kisah yang diriwayatkan dari Al-Mualim Abdurrahman bin
Muhammad Bawazir yang ia terima dari beberapa orang arifin, Beliau berkata,
“Sesungguhnya tatkala Sayyidina Syeikh Abubakar bin Salim mendirikan masjidnya
yang masyhur di Kota Inat, beliau berkata kepada orang yang sedang membangunnya
dikala itu yaitu Ibnu Ali sambil menunjuk satu dinding yang baru didirikan,
“Dinding yang didirikan ini tidak akan dimakmurkan oleh orang-orang, kami
menginginkannya agar sedikit maju”. Ibnu Ali menjawab, “Ya Sayyidi yang engkau
inginkan adalah kemaslahatan tetapi bagaimanakah kami akan merubahnya lagi,
karena dinding ini sudah terlanjur didirikan di tempat ini”. Syeikh Abubakar
yang saat itu sedang memegang tongkat memukul dinding tersebut, maka dengan
izin Allah SWT dinding tersebut berpindah tempat dari tempatnya semula sampai
pada tempat yang diinginkan olehnya”.
Penduduk
Inat sangat mencintai Syeikh Abubakar, hal ini antara lain dikarenakan
keluhuran budi pekerti yang dimilikinya. Beliau merupakan seorang dermawan yang
suka menjamu tamu. Jika tamu yang berkunjung banyak, maka ia memotong satu atau
dua ekor onta untuk jamuannya. Karena sambutan yang hangat ini, maka semakin
banyak orang yang datang mengunjunginya. Dalam menjamu dan memenuhi kebutuhan
para tamunya, ia tidak segan-segan untuk turun tangan sendiri. Mereka datang
terhormat dan pulang pun dengan terhormat. Dalam kesehariannya, ia mengeluarkan
sedekah sebagaimana orang yang tidak takut jatuh miskin, setiap hari ia
membagikan seribu potong roti kepada fakir miskin.
Beliau
dikenal sebagai seorang yang sangat tawadhu, tidak ada seorang pun yang pernah
melihatnya duduk bersandar ataupun bersila. Syeikh Abdurrahman bin Ahmad Ba
Wazir, seorang yang faqih, berkata, “Selama 15 tahun sebelum wafatnya, di dalam
berbagai majlisnya, baik bersama kaum khusus ataupun awam, Syeikh Abubakar bin
Salim tidak pernah terlihat duduk, kecuali dalam posisi duduknya orang yang
sedang tasyahud akhir”.
Semasa
hidupnya beliau selalu membaca wirid-wirid tarekat, dan secara pribadi, ia
mempunyai beberapa wirid dan selawat. Antara lain sebuah amalan wirid besar
miliknya yang disebut Hizb al-Hamd wa al-Majd yang ia diktekan kepada muridnya
sebelum fajar tiba di sebuah masjid. Itu adalah karya terakhir yang disampaikan
ke muridnya, Allamah Faqih Syeikh Muhammad bin Abdurrahman Bawazir pada tanggal
8 bulan Muharram tahun 992 H.
Selain
menyusun wirid dan selawat, Syeikh Abubakar bin Salim juga banyak menulis
kitab, terutama yang berhubungan dengan masalah tasawwuf, antara lain Miftah
as-Sara’ir wa Kanz adz-Dzakha’ir yang beliau susun sebelum usianya melampaui 17
tahun. Mi’raj Al-Arwah yang membahas ilmu hakikat. Beliau memulai menulis buku
ini pada tahun 987 H dan menyelesaikannya pada tahun 989 H. Fath Bab Al-Mawahib
yang juga mendiskusikan masalah-masalah ilmu hakikat. Ia memulainya di bulan
Syawwal tahun 991 H dan dirampungkan dalam tahun yang sama tangal 9 Dzulhijjah.
Ma’arij At-Tawhid, serta sebuah diwan yang berisi pengalaman pada awal mula
perjalanan spiritualnya.
Perjalanan
kehidupan Syeikh Abubakar bin Salim banyak dibukukan oleh para ulama terkenal,
tidak kurang dari 25 buku yang menceritakan biografi kehidupan beliau, antara
lain Bulugh Azh-Zhafr wa Al-Maghanim fi Manaqib As-Syeikh Abi Bakr bin Salim
karya Allamah Syeikh Muhammad bin Sirajuddin. Az-Zuhr Al-Basim fi Raba
Al-Jannat fi Manaqib Abi Bakr bin Salim Shahib Inat oleh Allamah Syeikh
Abdullah bin Abi Bakr bin Ahmad Basya’eib. Sayyid al-Musnad pemuka agama yang
masyhur, Salim bin Ahmad bin Jindan Al-Alawy mengemukakan bahawa dia memiliki
beberapa manuskrip (naskah yang masih berbentuk tulisan tangan) tentang Syeikh
Abu Bakar bin Salim. Di antaranya Bughyatu Ahl Al-Inshaf bin Manaqib Asy-Syeikh
Abi Bakr bin Salim bin Abdullah As-Seggaf karya Allamah Muhammad bin Umar bin
Sholeh bin Abdurrahman Baraja Al-Khatib.
Banyak
dari kitab-kitab tersebut yang mencantumkan kisah kekeramatan Syeikh Abubakar
bin Salim. Seperti yang diriwayatkan oleh Faqih Muhammad bin Sirojuddin Jamal
Rohimahullah dalam kitabnya Bulughizhofri wal Maghanimi fi Manaqibi As-Syeikh
Abu Bakar bin Salim RA. Sesungguhnya aku bermusafir ke negeri India pada bulan
Asyura, tahun 973 H dengan naik kapal, sampai akhirnya pada satu tempat yang
dikenal dengan Khuril Gari. Pada saat itu sangatlah gelap dan hujan turun
sangat lebatnya, dan pada saat itu kapal kami mengalami kerusakan. Dan para
penumpangnya merasa kebingungan dan ketakutan sehingga mereka menangisi keadaan
mereka. Aku sendiri berdoa kepada Allah SWT dan bertawassul kepada para
waliullah. Akupun lalu beristighasah dan bertawajjuh hatiku kepada Sayyidi
Syeikh Abubakar bin Salim. Setelah aku bertawassul kepadanya, aku mendengar
suara beliau seolah-olah begitu dekat denganku. Lalu aku berdiri dan
memberitahukan kepada penumpang bahwasanya telah mendapatkan isyarat dan kabar
gembira dalam keadaan yang sangat sulit saat itu. Dan ternyata kamipun
diselamatkan oleh Allah SWT dengan kemuliaan Sayyidi Syeikh Abubakar bin Salim.
Juga
diceritakan dalam Kitab Insus Salikin Ila Maqomatil Washilin yang dikarang oleh
Sayyid Abdullah bin Ahmad Baharun. Didalam kitab tersebut diceritakan kisah
dari Umar bin Ali Bamansur. Kami mendapat kabar dari seorang arifin, ia
bercerita, tatkala wafat seorang wali besar yaitu As-Syekh Makruf Bajamal di
negeri Budhoh, salah satu daerah di Dau’an. Kaum solihin melihat dengan ainul
bashiroh mereka ada sungai dengan cahaya yang cemerlang mengalir dari Budhoh.
Sungai tersebut mengalir ke Syibam dan memenuhi kota itu dengan cahaya hingga
ke Ghurfah dan Tarim, sampai akhirnya ke kota Inat dan terakhir bermuara di
hadirat Syeikh Abubakar bin Salim. Dari kabar ini, akhirnya seluruh murid
Syeikh Makruf mengetahi bahwa maqam kewalian gurunya telah berpindah kepada
Syeikh Abubakar bin Salim. Tertulis di dalam Majmu’ Kalam Al-Habib Ali
Al-Habsyi bahwasanya Syeikh Makruf memiliki murid lebih kurang 100 ribu orang.
Pada
waktu menjelang wafatnya, Syeikh Abubakar berada di kamar Sayyid Yusuf
Al-Qodhiy bin Abid Al-Hasany salah seorang murid kesayangannya. Sambil memangku
gurunya, Sayyid Yusuf membaca ayat Quran yang berbunyi Falammaa Qodhoo Zaidun
Wathoro. Ia membaca ayat ini sebagai isyarat keinginan dari Sayyid Yusuf untuk
mewarisi kedudukan kewalian Syeikh Abubakar bin Salim dan bila Syeikh Abubakar
bin Salim menjawab dengan Zawwajnaa Kahaa, maka itu adalah isyarat bahwa
kedudukan beliau akan diwarisi oleh Sayyid Yusuf, namun Syeikh Abubakar bin
Salim tidak menjawab seperti itu, malah ia berkata “Wahai Yusuf, engkau
menginginkan kedudukan kami. Sungguh kedudukanku adalah untuk anakku dan kalau
sekiranya aku tidak mendapati daripada salah satu anak-anakku yang akan
mewarisi kedudukanku, maka aku akan tanam maqam kewalianku ini di padang pasir
Inat”. Jawaban beliau ini mengkiaskan bahwa maqam kewalian Syeikh Abubakar bin
Salim hanya diwarisi oleh anak-anak beliau. Dan pada malam Ahad, tanggal 27 Dzulhijjah
992 H, Syeikh Abubakar bin Salim berpulang ke rahmatullah. Dengan meninggalkan
keturunan yang kelak juga menjadi pemuka kaum Alawiyyin yang meneruskan jejak
ayahnya. Beliau dimakamkan di kota Inat, Hadramaut. Di turbah (makam) Syeikh
Abubakar bin Salim terdapat pasir atau tanah (katsib) yang sangat termasyhur
kemujarabannya bagi orang-orang yang menginginkan keberkahan. Yang termasyhur
bahwa tanah ini bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit dan oleh karena
itulah juga Syeikh Abubakar bin Salim mendapatkan gelar Maula Katsib.
Diceritakan oleh Sayyid Abdul Qodir bin Abdullah bin Umar bin Syeikh Abubakar
bin Salim, beliau berkata, “Suatu ketika aku dan guruku Al-Arif Billah Ahmad
Al-Junaid berziarah ke Inat dan kepada Sayyidi Syeikh Abubakar bin Salim.
Sesudah ziarah guruku menginginkan dan mengambil pasir di makam tersebut untuk
menyembuhkan luka yang dideritanya pada salah satu kakinya. Dan ia meminta
kepada salah seorang daripada keturunan Syeikh Abubakar agar meletakkan pasir
tersebut atas luka beliau, dan luka tersebut sembuh dengan seizin Allah SWT.
Selang
beberapa waktu setelah wafatnya Syeikh Abubakar bin Salim, berkumpullah
anak-anak beliau untuk mencari dan memilih
Pada
riwayat yang lain, diceritakan oleh Al-Imam Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husin
Al-Habsyi, “Tatkala Syeikh Abubakar bin Salim wafat, maka setiap anak-anak
daripada Syeikh Abubakar bin Salim menginginkan menjadi khalifah menggantikan
ayahanda mereka. Maka ibunda mereka berkata, “Kalian semuanya mempunyai
keberkahan, akan tetapi siapa yang keramatnya terlihat maka ia akan menjadi
khalifah”. Maka anak-anak Syeikh Abubakar bin Salim pergi ke Wadi Inat. Dan
mereka membentangkan sajadah masing-masing ditengah Wadi Inat, lalu melakukan
shalat serta bermunajah kepada Allah SWT. Tak lama kemudian turun kepada Syeikh
Umar Al-Mahdhar bejana dan rantai emas dari langit. Maka Syeikh Umar memanggil
saudara-saudaranya, “Apakah kalian mendapatkan sesuatu?”. Mereka menjawab
“Tidak”. Maka merekapun menyerahkan kekhalifahan kepada Syeikh Umar, namun
kekhalifahan diserahkan dan dipegang oleh Sayyidina Husin. Beliau berkomentar
mengenai saudaranya Syeikh Umar Al-Mahdhar. “Sesungguhnya aku bersahabat dengan
saudaraku Umar Al-Mahdhar dan aku tidak merasa sebagai saudaranya, akan tetapi
aku merasa dan menempatkan diriku sebagai pembantu dan murid baginya”.
Dikisahkan
bahwa Sayyidina Husin sekali waktu mendapatkan gangguan dari para pembesar
setempat beserta pasukannya, sehingga membuatnya berhijrah ke Mekkah dan
Madinah dan menetap disana selama 7 tahun. Pada suatu hari beliau didatangi
oleh Nabi Khidir AS dan berkata, “Sesungguhnya datukmu Rasulullah SAW
mengucapkan salam atasmu dan memerintahkan dirimu agar segera pulang ke
Hadramaut”. Nabi Khidir memberitahukan kepadanya bahwa rasa permusuhan dari
musuh-musuhnya akan dihilangkan oleh Allah dan musuh-musuh beliau akan berubah
mencintainya. Dan Nabi Khidir memberitahukan kepadanya agar berjalan bersama
satu kafilah Arab di Hadramaut. Nabi Khidir juga memberitahukan kepada beliau
bahwa kafilah ini akan mempunyai hubungan yang dekat dengan keturunan beliau
sampai hari kiamat. Selain itu Nabi Khidir memberikan kepada Sayyidina Husin 3
buah benda, yaitu bejana atau gelas yang besar, tongkat dan gendang. Ketika
sang Sayyid pulang, ia mendapati kaum syiah zaidiyah sedang merajalela dan
berbuat semena-mena. Lalu beliau memerintahkan agar menabuh gendang yang
diberikan oleh Nabi Khidir diatas gunung. Ketika gendang tersebut ditabuh,
dengan izin Allah, kaum Zaidiyah yang tadinya berlaku semena-mena tiba-tiba bertingkah
seperti orang gila, dan merekapun kabur tercerai berai. Belakangan Imam Ahmad
bin Hasan Al-Atthas mengatakan, “Kami telah melihat bejana yang diberikan Nabi
Allah Khidir kepada Sayyidina Husein bin Syeikh Abubakar bin Salim beserta
tongkatnya ada di Kota Inat”.
Hingga
saat ini masih banyak keturunan Syeikh Abubakar bin Salim, disebutkan didalam
kitab Mu’jamul Lathief, selain dari jalur Sayyidina Husin juga diantaranya yang
terkenal dengan fam Al-Hamid, Bin Jindan, Al-Muhdar dan Al-Haddar. Keluarga Bin
Jindan, nasab mereka bersambung kepada Ali bin Muhammad bin Husein bin Syeikh
Abubakar bin Salim. Keluarga Al-Hamid, merupakan keturunan dari Al-Hamid bin
Syeikh Abubakar bin Salim. Keluarga Al-Muhdhar, keturunan Umar Al-Muhdhar.
Syeikh Abubakar bin Salim memberi nama Umar Al-Muhdhar karena ingin mendapatkan
berkah Sayyidina Umar Al-Muhdhar bin Abdurrahman As-Seggaf, juga dengan harapan
agar anaknya dapat meneladani dan mewarisi ilmu yang dimiliki oleh Umar
Al-Muhdhar, seorang arif billah yang amat dikaguminya. Dan keluarga Al-Haddar,
yang merupakan keturunan Ahmad Al-Haddar bin Abdullah bin Ali bin Muhsin bin
Husin bin Syeikh Abubakar bin Salim.
