Pada
suatu hari, Rasulullah SAW keluar dari rumah. Tiba-tiba beliau melihat ada dua
majelis yang berbeda. Majelis
yang pertama adalah majelis orang-orang ibadah, yang sedang berdoa kepada Allah
SWT dengan segala kecintaan kepada-Nya. Sedangkan majelis yang kedua adalah
majelis pendidikan atau pengajaran yang terdiri atas para guru dan sejumlah
muridnya.
Melihat dua majelis yang berbeda tersebut, Beliau Rasulullah SAW bersabda : “Adapun mereka dari majelis ibadah, mereka sedang berdoa kepada Allah. Jika mau, Allah menerima doa mereka, dan jika tidak, Allah menolak doa mereka itu. Tetapi, mereka yang termasuk dalam majelis pengajaran, mereka sedang mengajar manusia.”
Sesungguhnya
aku diutus oleh Allah juga menjadi seorang guru. Kemudian beliau datang mendekati
majelis yang kedua, yaitu majelis pendidikan, bahkan ikut duduk bersama mereka
mendengar pengajaran yang disampaikan oleh seorang guru.
Saking
mulianya kedudukan guru, Ahmad Syauki, seorang penyair Mesir, pernah menyatakan
bahwa “guru itu hampir seperti seorang rasul”. Mungkin itu terlalu berlebihan.
Karena memang pada dasarnya antara rasul dan guru memiliki tugas dan peranan
yang sama, yaitu mendidik, mengajar, dan membina umat.
Dalam surah Ali Imran [3] ayat 164, Allah SWT menegaskan tugas para rasul. Dalam ayat tersebut setidaknya ada tiga tugas pokok seorang rasul yang bisa dijadikan pegangan oleh setiap guru, yaitu membacakan ayat-ayat Allah (at-tilawah), membersihkan jiwa (at-tazkiyah), dan mengajarkan Alquran (al-kitab) dan sunah (al-hikmah).
Guru merupakan profesi yang paling mulia, agung, dan dihormati. Hal itu karena guru sebagai ahli waris para nabi. Guru dihormati karena ilmunya, yaitu ilmu yang diwariskan Rasulullah SAW melalui para sahabat, tabi'in, tabi'ut-tabi'in, para ulama, dan guru terdahulu.
Karena itulah, para guru pantas disebut sebagai ahli waris para nabi. Namun, guru yang tidak mengamalkan dan mengajarkan ilmu sesuai tuntunan Rasulullah SAW bukan ahli waris para nabi. (Fuad Asy-Syalhub dalam bukunya Guruku Muhammad SAW).
Menjadi
guru berarti memiliki peluang mendapatkan amalan yang terus mengalir, yaitu
dengan mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada peserta didik.
Sabda
Rasulullah SAW : "Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah
seluruh amalnya kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat,
dan anak saleh yang selalu berdoa untuknya." (HR Muslim).
Menurut
Syekh Jamal Abdul Rahman, jika guru mampu mendidik siswa menjadi saleh maka hal
itu masuk ke dalam ketiga kategori amal yang tidak akan putus sebagaimana dalam
hadis di atas. Maksudnya, waktu dan tenaga yang disisihkan guru untuk mendidik
siswa bisa menjadi sedekah jariyah.
Ilmu yang guru sampaikan kepada siswa akan menjadi ilmu yang bermanfaat. Dan siswa yang dididik sang guru akan menjadi anak yang saleh, yang akan mendoakan dirinya, baik ketika guru tersebut masih hidup maupun sudah meninggal dunia. Semoga Allah membimbing kita agar menjadi seorang guru pewaris para nabi dan rasul. Wallahu A'lam Bishawab.
Ilmu yang guru sampaikan kepada siswa akan menjadi ilmu yang bermanfaat. Dan siswa yang dididik sang guru akan menjadi anak yang saleh, yang akan mendoakan dirinya, baik ketika guru tersebut masih hidup maupun sudah meninggal dunia. Semoga Allah membimbing kita agar menjadi seorang guru pewaris para nabi dan rasul. Wallahu A'lam Bishawab.
